translate

Sabtu, 26 Desember 2015

12 Rabiul Awal 1437H

Dia lah pewaris surga, pemilik dunia dan alam raya.
Bulan ini, hampir seluruh umat Islam di seantero negri bahkan pelosok pasti merayakan atau lebih tepatnya. Memperingati hari kelahiran manusia pembawa rahmat, penerang dalam gelap nya alam dunia.. selamat memperingati maulid nabi kita Muhammad SAW.

Kamis, 19 Juli 2012

kunci stabilitas rohani

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Hendra Mulya
Ada hal yang cukup menarik dari perilaku manusia di sekitar kita terhadap ujian yang Tuhan berikan.
Di satu sisi, sebagian manusia memuji Tuhannya tatkala dia diberi kemuliaan hidup dan kenikmatan dunia yang serbacukup.
Keberadaannya dalam pekerjaan sudah cukup mapan dan segala kebutuhan hidup serta keluarga dapat dipenuhinya.
Maka itu terucaplah dari bibir manusia macam ini bahwa "Tuhan telah memuliakanku". Namun, tatkala Tuhan mengujinya dengan "membatasi" (faqadarahu) rezeki-nya yang cukup hanya untuk dimakan hari itu, sementara penghasilannya pun hanya pas-pasan untuk hidup, bahkan mungkin lebih banyak kurangnya maka dia mengeluh kepada Tuhannya.
Seraya berkata, "Tuhan telah menghinakanku". (QS [89]: 15-16).
Begitulah keadaan rohani manusia yang "labil" alias gonjang-ganjing karena tidak mampu menangkap hakikat nikmat dan ujian dari Allah SWT. Di saat usahanya maju dan rezekinya berlimpah, dia ingat Tuhan, akan tetapi di saat rezekinya dibatasi, Tuhan pun disalahkan.
Sesungguhnya Tuhan telah mendidik hamba-Nya untuk senantiasa memiliki stabilitas rohani yang mantap, sehingga rohaninya tidak pernah tersengat oleh gonjang-ganjing keberadaan harta dunia. Dan, inilah sebenarnya benang merah atau hakikat "pesan" para Rasul Tuhan kepada masyarakat pada zamannya masing-masing, mulai Nabi Adam AS hingga Muhammad SAW. Di antara mereka, kita mencatat contoh nyata dari teladan yang ditunjukkan nabi- nabi dan rasul Allah. Bagaimana Nabi Ayub AS yang diuji dengan kekurangan harta, serta Nabi Sulaiman AS yang diuji dengan harta dan kemegahan yang luar biasa. Walhasil mereka tetap memiliki stabilitas iman yang prima. Bahkan, Sulaiman AS dengan kekayaannya malah berucap, "Hadza min fadhli Rabbi." (Semua ini--kekuasaan dan harta yang dimilikinya--dari Tuhan-ku).
Maka itu, menjadi jelaslah bagi kita bahwa Tuhan tidak lagi melihat harta dan jabatan yang sedang kita miliki. Tapi, yang utama adalah apakah kita dapat tetap bersyukur atas harta dan jabatan yang kita miliki. Lebih jauh Tuhan lebih concern apakah harta dan kekuasaan yang kita genggam itu dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin di jalan-Nya (fi sabilillah). Dan, yang diperlukan saat ini adalah orang- orang yang memiliki mentalitas iman yang prima di saat tekanan ekonomi kehidupan yang begitu mengimpit
. Bila kita becermin pada ayat di atas, sejatinya kita tidak lagi "silau" dengan jabatan atau harta yang dimiliki seseorang.
Kita juga tidak picik dalam menilai kekurangan orang lain.
Pandanglah segala sesuatu dengan mata batin bahwa semuanya adalah ujian Allah SWT. Apakah dengan kelebihan itu dia pandai bersyukur, dan dengan kekurangan apakah dia bisa bersabar. Dengan begitu, stabilitas rohani kita akan mampu menghadapi segala ujian yang diberikan.
Wallahu a'lam.
Red: Heri Ruslan

Sabtu, 07 Juli 2012

kunjungan malaikat maut dalam sehari

Betapa seringnya malaikat maut melihat
dan menatap wajah seseorang, yaitu dalam
masa 24 jam sebanyak 70 kali. Andai kita
manusia sadar hakikat tersebut, niscaya dia
tidak akan lalai mengingati mati.
Tetapi oleh kerana malaikat maut adalah makhluk ghaib, manusia tidak melihat
kehadirannya, sebab itu manusia tidak
menyadari apa yang dilakukan oleh
Malaikat Izrail atas Kuasa ALLAH. Justru itu, tidak heranlah, jika banyak sekali
manusia yang masih mampu bersenang-
lenang dan bergelak-tawa, seolah-olah dia
tidak ada masalah yang perlu difikirkan dan
direnungkan dalam hidupnya. Walaupun
dia adalah seorang yang miskin amal kebajikan serta tidak memiliki secuil bekal
amalan untuk akhiratnya, dan sebaliknya
banyak pula melakukan dosa. Sebuah hadis Nabi s.a.w yang diriwayatkan
oleh Abdullah bin Abbas r.a, bahwa
Rasulullah s.a.w bersabda yang
maksudnya : "Bahwa malaikat maut meperhatikan wajah
manusia di muka bumi ini 70 kali dalam
sehari. Ketika Izrail datang merenung wajah
seseorang, didapati orang itu ada yang
gelak-ketawa. Maka berkata Izrail :
Alangkah herannya aku melihat orang ini, sedangkan aku diutus oleh Allah Taala
untuk mencabut nyawanya, tetapi dia masih
berhura-hura dan bergelak-tawa." Manusia tidak akan sadar bahwa dirinya
senantiasa diperhatikan oleh malaikat maut,
kecuali orang-orang soleh yang sentiasa
mengingati mati. Golongan ini tidak lalai dan senantiasa
sadar terhadap kehadiran malaikat maut,
karena mereka senantiasa meneliti hadis-
hadis Nabi Saw yang menjelaskan
mengenai perkara-perkara ghaib, terutama
mengenai hal ihwal mati dan hubungannya dengan malaikat maut. Meski pun mata manusia hanya mampu
melihat benda yang nyata, tidak mungkin
dapat melihat kehadiran malaikat maut itu.
Namun pandangan mata hati mampu
melihat alam ghaib, yaitu memandang
dengan keyakinan iman dan ilmu. Sebenarnya manusia itu sadar bahwa
setiap makhluk yang hidup pasti akan mati,
tetapi manusia menilai kematian dengan
berbagai tanggapan. Ada yang menganggap kematian itu
adalah suatu ketentuan biasa sebagai
pendapat golongan athies, dan tidak
kurang pula yang mengaitkan kematian itu
dengan sebab-sebab yang zahir saja. Dia
mengambil logika, bahwa banyak kematian disebabkan oleh suatu tragedi, seperti
diakibatkan oleh peperangan, bencana
alam seperti banjir, tsunami, gempa bumi,
kebakaran dan juga kecelakaan diudara,
laut dan daratan termasuk kemalangan
jalan raya. Selain itu, mereka juga melihat kematian
disebabkan oleh serangan penyakit yang
berbahaya seperti penyakit kanker, sakit
jantung, AIDS, demam berdarah, dan
sebagainya. Disebabkan manusia melihat
kematian hanya dari sudut sebab musabab yang lumrah, maka manusia sering
mengaitkan kematian itu dengan kejadian-
kejadian yang tersebut di atas. Jika berlaku
kematian dikalangan mereka, lantas
mereka bertanya, "sebab apa si fulan itu
mati, sakitkah atau kemalangankah?" Tidak banyak manusia yang mengaitkan
kematian itu dengan kehadiran malaikat
maut yang datang tepat pada saat ajal
seseorang sudah sampai, sedangkan
malaikat maut senantiasa berada
disekeliling manusia, mengenal pasti memerhatikan orang-orang yang hayatnya
sudah tamat. Sesungguhnya malaikat maut menjalankan
perintah ALLAH SWT dengan tepat dan
sempurna, dia tidak diutus hanya untuk
mencabut roh orang sakit saja, ataupun roh
orang yang mendapat kecelakaan dan
malapetaka. Jika ALLAH SWT menetapkan kematian seseorang ketika tertimpa
kemalangan, atau ketika diserang sakit
keras, maka Izrail mencabut roh orang itu
ketika kejadian tersebut. Namun ajal tidak mengenal orang yang
sehat, ataupun orang-orang kaya yang
sedang hidup mewah dibuai kesenangan.
Malaikat maut datang tepat pada waktunya
tanpa mengira orang itu sedang ketawa
riang atau mengerang kesakitan. Bila ajal mereka sudah tiba, maka kematiannya
tidak akan tertangguh walau hanya sesaat. Walau bagaimana pun, ada kalanya
ALLAH SWT jadikan berbagai sebab bagi
satu kematian, yang demikian itu ada
hikmah disebaliknya. Misalnya sakit keras
yang ditanggung berbulan-bulan oleh
seseorang, ia akan menjadi rahmat bagi orang yang beriman dan sabar, karena
ALLAH Ta'ala memberi peluang dan
menyadarkan manusia agar dia mengingati
mati, untuk itu dia akan menggunakan
masa atau usia yang ada untuk berbuat
sesuatu, membetulkan dan bertaubat dari dosa dan kehilapan serta memperbaiki
amalan, serta menambah bekal amalan
untuk akhirat, jangan sampai menjadi orang
merugi di akhirat kelak. Begitu juga orang yang mati mendandak
disebabkan kemalangan, ia akan menjadi
pengajaran dan memberi peringatan
kepada orang-orang yang masih hidup
supaya mereka senantiasa berwaspada
dan tidak lalai dari berusaha memperbaiki diri, menambah amal kebajikan dan
meninggalkan segala kejahatan. Karena
sekiranya ajal datang secara tiba-tiba pasti
akan membawa penyesalan yang tidak
berguna. Di kalangan orang solihin menganggap
bahwa sakit yang ditimpakan kepada
dirinya adalah sebagai tanda bahwa
ALLAH SWT masih menyayanginya.
Karena betapa malangnya bagi
pandangan meraka, jika ALLAH SWT mengambil roh dengan tiba-tiba, tanpa
peringatan terlebih dahulu. Seolah-olah
ALLAH SWT sedang murka terhadap
dirinya, sebab itulah ALLAH SWT memberi
peringatan terlebih dahulu kepadanya. Selain itu, ALLAH Ta'ala menjadikan sebab-
sebab kematian itu bagi memenuhi janji-
NYA kepada malaikat maut, sebagaimana
diriwayatkan oleh Saidina Abbas r.a dalam
sebuah hadis Nabi yang panjang. Antara
lain menjelaskan bahwa Izrail merasa sedih apabila dibebankan dengan tugas
mencabut roh makhluk-makhluk bernyawa
kerana di antara makhluk bernyawa itu
termasuk manusia yang terdiri dari kekasih-
kekasih Allah SWT yaitu para Rasul, nabi-
nabi, wali-wali dan orang-orang solihin. Selain itu juga, malaikat maut mengadu
kepada ALLAH betapa dirinya tidak
disenangi oleh keturunan Adam a.s, dia
mungkin dicemooh kerana dia ditugaskan
mencabut roh manusia, yang
menyebabkan orang akan berdukacita, karena kehilangan sanak-saudara dan
orang-orang yang tersayang di kalangan
mereka. Diriwayatkan bahwa ALLAH SWT berjanji
akan menjadikan berbagai macam sebab
kepada kematian yang akan dilalui oleh
keturunan Adam a.s sehingga keturunan
Adam itu akan memikirkan dan mengaitkan
kematian itu dengan sebab-sebab yang dialami oleh mereka. Apabila terjadinya
kematian, mereka akan berkata bahawa si
fulan itu mati karena mengidap sakit,
ataupun karena mendapat kemalangan,
mereka akan lupa mengaitkan malaikat
maut dengan kematian yang terjadi itu. Ketika itu, Izrail tidak perlu bersedih kerana
manusia tidak mengaitkan kematian
tersebut dengan kehadiran malaikat maut,
yang memang diutus oleh ALLAH SWT
pada saat malapetaka atau sakit keras
seseorang itu bertepatan dengan ajal mereka yang memangnya telah tiba. Namun pada hakikatnya bahwa ajal itu
adalah ketetapan ALLAH, yang telah
termaktub, semuanya telah nyata didalam
takdir ALLAH, bahwa kematian pasti tiba
pada saat yang ditetapkan. Izrail hanyalah
tentara-tentara ALLAH yang menjalankan tugas seperti yang diamanahkan
kepadanya. Walau bagaimana pun adalah menjadi hak
ALLAH Ta'ala untuk menentukan kematian,
sebagai mana yang dinyatakan pada awal
tulisan ini bahwa ada kalanya malaikat maut
hendak mencabut roh seseorang, tetapi
manusia yang dikunjungi malaikat maut sedang dalam keadaan bergelak-tawa,
hingga malaikat maut merasa heran
terhadap manusia itu. Ini membuktikan
bahawa kematian itu tidak pernah
mengenal kondisi seseorang yang sedang
sakit atau pun ketika sehat dan segar- bugar. Firman Allah Taala yang bermaksud : "Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka
apabila telah datang ajalnya mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat
pun dan tidak dapat (pula)
mempercepatnya."(Surah Al-A'raf ayat 34) Marilah tema-temanku, mulai detik ini kita
semua harus ingat dengan apa yang
namanya kematian, supaya kelak kita tidak
akan menyesal.

 

Sabtu, 30 Juni 2012

metallica


Part 4:
…the “St.Anger” era kicked off on April 30th/May 1st with the small matter of a video shoot at San Quentin prison for the same-titled track, and continued in earnest with an MTV Icons tribute show a week later, where peers such as Korn and Limp Bizkit lined up to pay tribute to the chaps. The guys also performed live, marking the first ‘official’ live appearance of Robert Trujillo (and the last in which he wore long trousers!) as well as James Hetfield’s first public performance since his stint in rehab.
Then came the small matter of rehearsals…which Metallica chose to do in front of their loyal fan club members over 4 nights at the historic Fillmore Theatre in San Francisco…and then it was off to Europe in June for the start of what would end up being 19 months of touring, with the festival circuit taking the early brunt, Metallica successfully playing to multiple 60,000-plus crowds. “St.Anger” saw it’s release on June 5th, a raw, feral, unrestrained slab of molten Metallica stuffed with abrasion, aggression and the overspill of four years excitement, anger, frustration and ultimate fruition. For those who thought it would signal a radio- hohned band, “St.Anger” was a big, fat slap in the face. Indeed, it was actually too heavy for some! Oh, and as if to prove that this ‘new’ Metallica were not a bunch of ginger-snap panty-waists, the boys played three shows in three different Parisian clubs in one day during mid-June, each venue harboring a temperature of not less than 100 degrees.
In the US, Summer Sanitarium followed, with Linkin Park and Limp Bizkit amongst the support acts on another series of stadium sell-outs. In the meanwhile, the fervor was slowly building for ‘Some Kind Of Monster’, the documentary film by Joe Berlinger and Bruce Sinofsky about the world of Metallica between 2001 and 2003. Ostensibly slated to be about the making of an album, the filmmakers found a whole new project developing when James went into rehab, and thus having been projected as a marketing tool, the end product ended up being an incredibly revealing 2 hour 20 minute documentary.
As the Mighty Metallica continued ploughing on through the world (going back to Europe, Japan and then onto Australia in January), SKOM was debuted to enormous critical acclaim at the 2004 Sundance Independent Film Festival in Utah during January.
And the year continued in the way that you’d imagine a Metalli-year does, deciding to play (seemingly) every single town capable of hosting a major arena gig in North America (some 80-plus dates) with Godsmack in support. Result? Oh well, the usual sell-outs you’d expect for this ‘in-the- round’ two hour thirty minute set which saw no song off limits and many a fan favorite raised from retirement for a gleeful airing. (p.s….there was another Grammy in February for Best Metal Performance – ‘St.Anger’).
July saw the theatrical debut of ‘Some Kind Of Monster’ which opened to enormous critical acclaim and went on to hold it’s own in North American theaters for three months before going through Europe. And August also saw the release of the first official Metallica book, “So What! The Good, the Mad, and the Ugly”, an edited compilation of the band’s fan club magazine spanning 10 years from 1994 to 2004. And still the ‘Madly In Anger With The World’ tour continued, selling out venues right through to it’s final date in San Jose, California on November 29, 2004… A busy spell? By many’s standards most certainly. By Metallica’s?
Business as usual. They did publicly state that the majority of 2005 would be spent re-charging those creative and mental batteries, and true to their word it was a quiet year, except for two little hometown gigs with the Rolling Stones at SBC Park in November. We all knew an entire year would not pass without at least a sighting of the guys! With batteries re-charged after the two shows with the Stones, the guys hit the studio in early 2006 to start writing a new album and were excited to announce that they would be working with a new producer, Rick Rubin. The spring and summer found them escaping from the studio once again with shows in South Africa (their first ever visit to the continent!), Europe, Japan and Korea. “The New Song” made its debut in Berlin, Germany on June 6 to give us all a little taste of things to come in 2007 with the remainder of the year scheduled for more writing and jamming. Before they had even played 'The New Song' on that 07 summer jaunt, Metallica had decided to take a different approach to the studio, now working with Rubin. Having availed themselves of long-time twiddler Bob Rock's expertise and unifying qualities, the band wanted to see what happened when working with the decidedly hands-off Rubin. His message, when the band entered the studio in April of 07 to record, was simple; don't be afraid of your past, don't be afraid to rediscover your roots, embrace the ethic of performance over editing and get back to what Metallica essentially is. Thus began months of work with hands-on engineer Greg Fidelman handing the daily duties and Rubin overseeing and dropping in for tete-a-tetes to make sure matters remained on course. In essence, Rubin removed himself from the process as an ally to anyone and forced Metallica to find their own solutions and resolutions. He also made everyone re-record entire parts if they were unhappy to avoid a pro-tools dominated approach to creation, the idea being that it was always about the performance. Ironically, Rubin would later comment in the band's magazine So What! that the bulk of the album was recorded in a month, despite the fact it finally saw light on September 12, 2008, celebrating the release with two low ticket cost charity shows in Berlin and at London's O2 Arena. The popular response was enormous, with the album smashing the charts at #1 and critical acclaim acknowledging that this was, indeed, the return to business that Metallica had threatened for so long. The groundwork had been laid with St.Anger and the fruit was abundant with Death Magnetic, cuts such as "The Day That Never Comes", "Broken, Beat & Scarred" and "All Nightmare Long" becoming instant fan favorites. Aside from the Death Magnetic album, on March 29, 2009 the band also saw Guitar Hero: Metallica released in North America, with international releases coming in the following couple of months. An Activision game, GH:M features 28 Metallica favorites and 21 songs from bands Metallica like, as well as guest appearances from King Diamond and Lemmy from Motorhead. As well as all these releases, the band of course hit the road, the World Magnetic Tour starting on October 20, 2008 in Glendale, Arizona. It is a tour that keeps on giving, keeps on coming, and will flow deep into 2010, the band hoping to perhaps play in some places they've never been before. Gone, however, are the grueling days of 8-10 weeks at a time on the asphalt, instead the schedule ensures Metallica are never on the road for longer than a couple of weeks before taking at least a week off back at home. It is a highly effective solution to the problem of making the road work with family and home life, and as such the tour thus far has seen some of Metallica's best performances ever as 'burn-out' is not even a factor. Indeed, with shows selling out left, right, centre and sideways, an appearance at the legendary British site Knebworth on August 2nd as part of the Sonisphere Festival, plus three sold-out nights in Mexico City, it is fair to say that this portion of the story is most certainly to be continued...
Thanks to Shreejan Shrestha , guitarnepal@gmail.com for submitting the biography.