translate

Jumat, 29 Juni 2012

Disaat Impianmu Belum Terwujud

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Shalawat dan salam kepada Nabi kita
Muhammad, keluarga dan para
sahabatnya serta orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik hingga akhir
zaman. Setiap orang pasti memiliki impian dan cita-
cita. Berbagai usaha pun dikerahkan untuk
mencapai impian tersebut. Namun kadang
usaha untuk menggapai impian kandas di
tengah jalan dikarenakan berbagai
rintangan dari dalam maupun dari luar. Tentu saja impian yang kami maksudkan di
sini adalah impian yang logis yang bisa
dicapai dan bukan hanya khayalan di
negeri antah berantah. Di saat impian tadi
belum terwujud, bagaimanakah cara untuk
menggapainya? Semoga tulisan ini bisa memberikan solusi terbaik. Belajar dari Kisah Ibrahim 'alaihis salam dan
Istrinya Suatu pelajaran yang patut dicontoh adalah
kisah Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama
istrinya, Sarah. Lihatlah impiannya untuk
memiliki anak sekian lama, akhirnya bisa
terwujud. Padahal ada tiga sebab yang
menjadi penghalang ketika itu. Sarah sudah sangat tua, Ibrahim pun demikian dan
Sarah adalah wanita yang mandul.[1] Ada
ulama yang berpendapat bahwa ketika
anaknya Ishaq itu lahir, Sarah berusia 90-
an tahun dan Ibrahim berusia 100-an
tahun.[2] Namun di usia sudah sangat senja seperti itu, Allah Ta'ala memudahkan
mereka memiliki anak, yaitu Ishaq yang
akan menjadi seorang Nabi. Mengenai
kisah Ibrahim dan Sarah, kita dapat melihat
dalam dua surat. Dalam kisah mereka, Allah
Ta'ala menceritakan kedatangan tamu (para malaikat). Ia pun dan istrinya
menjamu mereka dengan sangat baiknya
dan malaikat tersebut membawa kabar
gembira pada Ibrahim dan Sarah atas
kelahiran Ishaq, ﻓَﺄَﻭْﺟَﺲَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺧِﻴﻔَﺔً ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗَﺨَﻒْ ﻭَﺑَﺸَّﺮُﻭﻩُ ﺑِﻐُﻠَﺎﻡٍ 30) ُﻢﻴِﻠَﻌْﻟﺍ ُﻢﻴِﻜَﺤْﻟﺍ َﻮُﻫ ُﻪَّﻧِﺇ ِﻚُّﺑَﺭ َﻝﺎَﻗ ِﻚِﻟَﺬَﻛ ﺍﻮُﻟﺎَﻗ (29) ٌﻢﻴِﻘَﻋ ٌﺯﻮُﺠَﻋ ْﺖَﻟﺎَﻗَﻭ ﺎَﻬَﻬْﺟَﻭ ْﺖَّﻜَﺼَﻓ ٍﺓَّﺮَﺻ ﻲِﻓ ُﻪُﺗَﺃَﺮْﻣﺍ ِﺖَﻠَﺒْﻗَﺄَﻓ (28) ٍﻢﻴِﻠَﻋ ) “(Tetapi mereka tidak mau makan), karena
itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka.
Mereka berkata: "Janganlah kamu takut",
dan mereka memberi kabar gembira
kepadanya dengan (kelahiran) seorang
anak yang alim (Ishak). Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya
sendiri seraya berkata: "(Aku adalah)
seorang perempuan tua yang mandul".
Mereka berkata: "Demikianlah Tuhanmu
memfirmankan" Sesungguhnya Dialah
yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. ” (QS. Adz Dzariyaat: 24-30) Dalam surat Huud, Allah Ta'ala
menceritakan, ﻭَﺍﻣْﺮَﺃَﺗُﻪُ ﻗَﺎﺋِﻤَﺔٌ ﻓَﻀَﺤِﻜَﺖْ 72) ٌﺐﻴِﺠَﻋ ٌﺀْﻲَﺸَﻟ ﺍَﺬَﻫ َّﻥِﺇ ﺎًﺨْﻴَﺷ ﻲِﻠْﻌَﺑ ﺍَﺬَﻫَﻭ ٌﺯﻮُﺠَﻋ ﺎَﻧَﺃَﻭ ُﺪِﻟَﺃَﺃ ﺎَﺘَﻠْﻳَﻭ ﺎَﻳ ْﺖَﻟﺎَﻗ (71) َﺏﻮُﻘْﻌَﻳ َﻕﺎَﺤْﺳِﺇ ِﺀﺍَﺭَﻭ ْﻦِﻣَﻭ َﻕﺎَﺤْﺳِﺈِﺑ ) “Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia
tersenyum, maka Kami sampaikan
kepadanya berita gembira tentang
(kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir
puteranya) Ya'qub. Isterinya berkata:
"Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah
seorang perempuan tua, dan ini
suamikupun dalam keadaan yang sudah
tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar
suatu yang sangat aneh." ” (QS. Huud:
71-72) Lihatlah bagaimana impian Sarah dan
Ibrahim untuk memiliki anak baru terwujud
setelah mereka berada di usia sangat-
sangat tua. Ketika menyebutkan kisah ini,
Allah Ta'ala pun mengatakan di akhir kisah
bahwa Allah itu Al 'Alim (Maha Mengilmui) dan Al Hakim (Maha Bijaksana). Artinya,
Allah Ta'ala memiliki ilmu yang sempurna.
Sedangkan Allah itu Al Hakim menunjukkan
bahwa Allah memiliki kehendak, keadilan,
rahmat, ihsan, dan kebaikan yang
sempurna. Di samping itu Allah Ta'ala pun betul-betul menempatkan sesuatu pada
tempatnya. Inilah pelajaran di balik nama
Allah Al Alim dan Al Hakim.[3] Suatu yang
mustahil dapat terjadi jika Allah
menghendaki. Suatu impian yang sulit
terwujud dapat digapai dengan kekuasaan Allah. Allah Ta'ala berfirman, ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏَﺎﻟِﺐٌ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻟَﺎ َﻥﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya,
tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21). Maha
Mulia Allah Ta'ala dengan segala sifat-
sifatnya yang maha sempurna. Pahamilah Takdir Ilahi Ketahuilah setiap yang terjadi di muka bumi
ini sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh sejak
50.000 tahun yang lalu sebelum penciptaan
langit dan bumi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣَﻘَﺎﺩِﻳﺮَ ﺍﻟْﺨَﻼَﺋِﻖِ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺨْﻠُﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽَ ﺑِﺨَﻤْﺴِﻴﻦَ ﺃَﻟْﻒَ ٍﺔَﻨَﺳ “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk
sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan
langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari
‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash) Jika seseorang mengimani takdir ini dengan
benar, maka ia pasti akan memperoleh
kebaikan yang teramat banyak. Ibnul
Qayyim mengatakan, “Landasan setiap
kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa
setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak
akan terjadi.” (Al Fawaid, hal. 94) [4] Yang Allah takdirkan tidaklah sia-sia. Pasti
ada hikmah di balik itu semua. Allah Ta'ala
berfirman, ﺃَﻓَﺤَﺴِﺒْﺘُﻢْ ﺃَﻧَّﻤَﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻋَﺒَﺜًﺎ ﻭَﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ ﻟَﺎ 116) ِﻢﻳِﺮَﻜْﻟﺍ ِﺵْﺮَﻌْﻟﺍ ُّﺏَﺭ َﻮُﻫ ﺎَّﻟِﺇ َﻪَﻟِﺇ ﺎَﻟ ُّﻖَﺤْﻟﺍ ُﻚِﻠَﻤْﻟﺍ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَﻟﺎَﻌَﺘَﻓ (115) َﻥﻮُﻌَﺟْﺮُﺗ ) “Maka apakah kamu mengira, bahwa
sesungguhnya Kami menciptakan kamu
secara main-main (saja), dan bahwa kamu
tidak akan dikembalikan kepada Kami?
Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang
Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang
mulia.” (QS. Al Mu’minun: 115-116) ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ِّﻖَﺤْﻟﺎِﺑ ﺎَّﻟِﺇ ﺎَﻤُﻫﺎَﻨْﻘَﻠَﺧ ﺎَﻣ (38) َﻦﻴِﺒِﻋﺎَﻟ “Dan Kami tidak menciptakan langit dan
bumi dan apa yang ada antara keduanya
dengan bermain-main. Kami tidak
menciptakan keduanya melainkan dengan
haq.” (QS. Ad Dukhan: 38-39). Oleh karena
itu, jika impian itu belum terwujud, maka perlu kita pahami bahwa itulah ketentuan
Allah. Allah menjanjikan hikmah di balik itu
semua karena sifat hikmah yang sempurna
yang Dia miliki. Terus Tawakkal dan Berusaha Semaksimal
Mungkin Kita harus punya sifat optimis dengan selalu
bertawakkal (menyandarkan hati pada
Allah) dan tetap berusaha untuk
menggapai impian yang kita cita-citakan.
Ingatlah bahwa siapa saja yang bertakwa
dan bertawakkal pada Allah Ta'ala dengan sebenar-benarnya, maka pasti Allah Ta'ala
akan memberikan ia jalan keluar dan akan
memberikan ia selalu kecukupan. Allah
Ta'ala berfirman, ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﻖِ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ ُﻪُﺒْﺴَﺣ َﻮُﻬَﻓ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ْﻞَّﻛَﻮَﺘَﻳ ْﻦَﻣَﻭ ُﺐِﺴَﺘْﺤَﻳ ﺎَﻟ ُﺚْﻴَﺣ ْﻦِﻣ ُﻪْﻗُﺯْﺮَﻳَﻭ (2) ﺎًﺟَﺮْﺨَﻣ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan Mengadakan baginya
jalan keluar, dan memberinya rezki dari
arah yang tiada disangka-sangkanya. dan
Barangsiapa yang bertawakkal kepada
Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3) Perlu diperhatikan bahwa impian bukan
sekedar angan-angan yang tidak ada
realisasinya. Jika impian ingin dicapai, tentu
harus ada usaha semaksimal mungkin.
Cobalah kita saksikan contoh gampangnya
adalah seekor burung ketika ia ingin menggapai impiannya untuk memperoleh
makanan di hari itu, dia pun pergi ke luar
sarangnya untuk mencari hajat yang ia
butuhkan. Ketika pulang pun ia dalam
keadaan tenang. Inilah yang diisyaratkan
dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮَﺯَﻗَﻜُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﺮْﺯُﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮَ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻﺎً ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ًﺎﻧﺎَﻄِﺑ “Seandainya kalian betul-betul bertawakkal
pada Allah, sungguh Allah akan
memberikan kalian rizki sebagaimana
burung mendapatkan rizki. Burung tersebut
pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar
dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu
Majah dan Ibnu Hibban dari Umar bin Al
Khottob;derajat hasan). Lihatlah bagaimana
seekor burung saja mewujudkan impiannya
dengan mencari rizki, dengan berusaha
semaksimal mungkin. Bagaimanakah lagi kita selaku insan yang diberi anugerah akal
oleh Sang Kholiq? Teruslah Memohon pada Allah Untuk mewujudkan impian, janganlah
lupakan Yang Di Atas. Kadang kita lalai dan
hanya bergantung pada diri kita sendiri
yang lemah dan tidak memiliki kemampuan
apa-apa. Maka perbanyaklah do'a. Karena
setiap do'a pastilah bermanfaat. Allah Ta'ala berfirman, ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ْﻢُﻜَﻟ “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu'min:
60) Jika ada yang bertanya, “Aku sudah
seringkali berdo'a, namun mengapa
impianku belum tercapai juga?” Kami bisa
memberi jawaban sebagai berikut: Pertama: Do'a boleh jadi terkabul, namun
kita saja yang tidak mengetahui bentuk
terkabulnya. Terkabulnya do'a bisa jadi
dengan dipalingkan dari kejelekan dari do'a
yang kita minta. Dan boleh jadi Allah simpan
terkabulnya do'a tadi di akhirat kelak. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, « ﻣﺎ ﻣِﻦْ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺑِﺪَﻋْﻮَﺓٍ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺇِﺛْﻢٌ ﻭَﻻَ ﻗَﻄِﻴﻌَﺔُ ﺭَﺣِﻢٍ ﺇِﻻَّ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻬَﺎ ﺇِﺣْﺪَﻯ ﺛَﻼَﺙٍ ﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﺗُﻌَﺠَّﻞَ ﻟَﻪُ ﺩَﻋْﻮَﺗُﻪُ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺪَّﺧِﺮَﻫَﺎ ﻟَﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﺃَﻥُْ ﻳَﺼْﺮِﻑَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﻮﺀِ ُﻪَّﻠﻟﺍ » َﻝﺎَﻗ .ُﺮِﺜْﻜُﻧ ًﺍﺫِﺇ ﺍﻮُﻟﺎَﻗ .« ﺎَﻬَﻠْﺜِﻣ ﺃَﻛْﺜَﺮُ » “Tidaklah seorang muslim memanjatkan
do’a pada Allah selama tidak mengandung
dosa dan memutuskan silaturahmi (antar
kerabat, pen) melainkan Allah akan beri
padanya tiga hal: [1] Allah akan segera
mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak,
dan [3] Allah akan menghindarkan darinya
kejelekan yang semisal.” Para sahabat
lantas mengatakan, “Kalau begitu kami
akan memperbanyak berdo’a.” Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak
mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR.
Ahmad, dari Abu Sa'id; derajat hasan) Contohnya seseorang berdo'a,
“Allahummar-zuqnii, Allahummar-zuqnii” (Ya
Allah, berilah aku rizki. Ya Allah, berilah aku
rizki). Boleh jadi do'a tersebut, Allah
kabulkan segera atau diakhirkan. Allah
Ta'ala Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba tersebut. Bahkan boleh jadi
pula, Allah simpan do'a tersebut untuk
meninggikan derajatnya di surga. Ini tentu
saja lebih tinggi dari kebahagiaan di dunia.
Kebahagiaan di akhirat kelak tentu jauh
berbeda dari kebahagiaan di dunia. Malik bin Dinar mengatakan, ﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻣﻦ ﺫﻫﺐ ؟ﻰﻨﻔﻳ ﻑﺰﺧ ﻦﻣ ﺎﻴﻧﺪﻟﺍﻭ ، ﻰﻘﺒﻳ ﺐﻫﺫ ﻦﻣ ﺓﺮﺧﻵﺍﻭ ﻒﻴﻜﻓ ، ﻰﻨﻔﻳ ﺐﻫﺫ ﻰﻠﻋ ﻰﻘﺒﻳ ﻑﺰﺧ ﺮﺛﺆﻳ ﻥﺃ ﺐﺟﺍﻮﻟﺍ ﻥﺎﻜﻟ ﻰﻘﺒﻳ ﻑﺰﺧ ﻦﻣ ﺓﺮﺧﻵﺍﻭ ، ﻰﻨﻔﻳ “Seandainya dunia adalah emas yang akan
fana, dan akhirat adalah tembikar yang
kekal abadi, maka tentu saja seseorang
wajib memilih sesuatu yang kekal abadi
(yaitu tembikar) daripada emas yang nanti
akan fana. Lalu bagaimana lagi jika akhirat itu adalah emas yang akan kekal abadi dan
dunia adalah tembikar yang akan fana?”[5] Kedua: Terkabulnya do'a boleh jadi
diakhirkan agar seseorang tetap giat dan
bersemangat dalam berdo'a. Ketika ia giat
berdo'a, maka ia pun akan mendapatkan
ketinggian derajat di akhirat kelak. Cobalah
kita perhatikan apa yang terjadi pada para Nabi 'alaihimush sholaatu wa salaam.
Mereka terus saja berdo'a dan
memperbanyak do'a, namun terkabulnya
do'a mereka diakhirkan agar mereka tetap
semangat dalam berdo'a. Di antara
contohnya adalah Nabi Ayyub 'alaihis salam yang diberi cobaan penyakit selama 18
tahun sehingga ia pun dijauhi kerabat dan
yang lainnya. Namun ia tetap terus berdo'a
dan berdo'a. Allah pun memujinya karena
kesabarannya tersebut, ﺇِﻧَّﺎ ﻭَﺟَﺪْﻧَﺎﻩُ ﺻَﺎﺑِﺮًﺍ ﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺇِﻧَّﻪُ ٌﺏﺍَّﻭَﺃ “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub)
seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik
hamba. Sesungguhnya dia amat taat
(kepada Tuhan-nya).” (QS. Shaad: 44)[6] Ketiga: Boleh jadi do'a tersebut sulit terkabul
karena beberapa faktor penghalang. Di
antara faktor penghalang adalah
seseorang mengangkat tangan ke langit,
namun ia sering mengkonsumsi makanan,
minuman dan menggunakan pakaian yang haram atau diperoleh dari hasil yang haram
(sebagaimana disebut dalam hadits riwayat
Muslim no. 1015, dari Abu Hurairah). Inilah
yang membuat do'a seseorang sulit
terkabul. Oleh karena itu, sudah
sepantasnya kita rajin mengintrospeksi diri, siapa tahu do'a kita tidak kunjung terkabul
karena sebab mengkonsumsi yang haram. Penutup Teruslah berusaha, memohon pada Allah,
dan janganlah putus asa. Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ ﺍﻟْﻘَﻮِﻯُّ ﺧَﻴْﺮٌ ﻭَﺃَﺣَﺐُّ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺍﻟﻀَّﻌِﻴﻒِ ﻭَﻓِﻰ ﻛُﻞٍّ ﺧَﻴْﺮٌ ﺍﺣْﺮِﺹْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻚَ ﻭَﺍﺳْﺘَﻌِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻌْﺠِﺰْ ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﻚَ ﺷَﻰْﺀٌ ﻓَﻼَ ﺗَﻘُﻞْ ﻟَﻮْ ﺃَﻧِّﻰ ﻓَﻌَﻠْﺖُ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺬَﺍ ِﻥﺎَﻄْﻴَّﺸﻟﺍ َﻞَﻤَﻋ ُﺢَﺘْﻔَﺗ ْﻮَﻟ َّﻥِﺈَﻓ َﻞَﻌَﻓ َﺀﺎَﺷ ﺎَﻣَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺭَﺪَﻗ ْﻞُﻗ ْﻦِﻜَﻟَﻭ .ﺍَﺬَﻛَﻭ “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih
dicintai oleh Allah daripada mukmin yang
lemah. Namun, keduanya tetap memiliki
kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal
yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah
pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka
janganlah engkau katakan: ‘Seandainya
aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan
tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah
jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia
kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu
syaithon.” (HR. Muslim no. 2664, dari Abu
Hurairah) Jadikanlah impian kita semata-mata untuk
tujuan akhirat dan bukan dunia semata.
Jika ingin meraih kekayaan, jadikanlah ia
sebagai amal sholih untuk tujuan akhirat.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻵﺧِﺮَﺓُ ﻫَﻤَّﻪُ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏِﻨَﺎﻩُ ﻓِﻰ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﻭَﺟَﻤَﻊَ ﻟَﻪُ ﺷَﻤْﻠَﻪُ ﻭَﺃَﺗَﺘْﻪُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻫِﻰَ ﺭَﺍﻏِﻤَﺔٌ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻫَﻤَّﻪُ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓَﻘْﺮَﻩُ ﺑَﻴْﻦَ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻪِ ﻭَﻓَﺮَّﻕَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺷَﻤْﻠَﻪَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺗِﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﻗُﺪِّﺭَ ُﻪَﻟ “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk
menggapai akhirat, maka Allah akan
memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia
akan menyatukan keinginannya yang
tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh
dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai
dunia, maka Allah akan menjadikan dia
tidak pernah merasa cukup, akan mencerai
beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia
peroleh kecuali yang telah ditetapkan
baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465, shahih) Ketika impian tercapai, maka perbanyaklah
syukur pada Allah dengan selalu taat dan
menjauhi larangan-larangan-Nya. Lihatlah
bagaimana do'a Ibrahim ketika di usia senja
ia masih diberi keturunan. ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻭَﻫَﺐَ ﻟِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜِﺒَﺮِ ﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞَ ﻭَﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﺇِﻥَّ ﺭَﺑِّﻲ ﻟَﺴَﻤِﻴﻊُ 39) ِﺀﺎَﻋُّﺪﻟﺍ ) “Segala puji bagi Allah yang telah
menganugerahkan kepadaku di hari tua
(ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya
Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar
(memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim:
39). Ada ulama yang mengatakan bahwa ketika Isma'il lahir, usia Ibrahim 99 tahun
dan ketika Ishaq lahir, usia beliau 112
tahun.[7] Semoga tulisan ini bermanfaat. Segala puji
bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala
kebaikan menjadi sempurna.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar