translate

Sabtu, 07 Juli 2012

kunjungan malaikat maut dalam sehari

Betapa seringnya malaikat maut melihat
dan menatap wajah seseorang, yaitu dalam
masa 24 jam sebanyak 70 kali. Andai kita
manusia sadar hakikat tersebut, niscaya dia
tidak akan lalai mengingati mati.
Tetapi oleh kerana malaikat maut adalah makhluk ghaib, manusia tidak melihat
kehadirannya, sebab itu manusia tidak
menyadari apa yang dilakukan oleh
Malaikat Izrail atas Kuasa ALLAH. Justru itu, tidak heranlah, jika banyak sekali
manusia yang masih mampu bersenang-
lenang dan bergelak-tawa, seolah-olah dia
tidak ada masalah yang perlu difikirkan dan
direnungkan dalam hidupnya. Walaupun
dia adalah seorang yang miskin amal kebajikan serta tidak memiliki secuil bekal
amalan untuk akhiratnya, dan sebaliknya
banyak pula melakukan dosa. Sebuah hadis Nabi s.a.w yang diriwayatkan
oleh Abdullah bin Abbas r.a, bahwa
Rasulullah s.a.w bersabda yang
maksudnya : "Bahwa malaikat maut meperhatikan wajah
manusia di muka bumi ini 70 kali dalam
sehari. Ketika Izrail datang merenung wajah
seseorang, didapati orang itu ada yang
gelak-ketawa. Maka berkata Izrail :
Alangkah herannya aku melihat orang ini, sedangkan aku diutus oleh Allah Taala
untuk mencabut nyawanya, tetapi dia masih
berhura-hura dan bergelak-tawa." Manusia tidak akan sadar bahwa dirinya
senantiasa diperhatikan oleh malaikat maut,
kecuali orang-orang soleh yang sentiasa
mengingati mati. Golongan ini tidak lalai dan senantiasa
sadar terhadap kehadiran malaikat maut,
karena mereka senantiasa meneliti hadis-
hadis Nabi Saw yang menjelaskan
mengenai perkara-perkara ghaib, terutama
mengenai hal ihwal mati dan hubungannya dengan malaikat maut. Meski pun mata manusia hanya mampu
melihat benda yang nyata, tidak mungkin
dapat melihat kehadiran malaikat maut itu.
Namun pandangan mata hati mampu
melihat alam ghaib, yaitu memandang
dengan keyakinan iman dan ilmu. Sebenarnya manusia itu sadar bahwa
setiap makhluk yang hidup pasti akan mati,
tetapi manusia menilai kematian dengan
berbagai tanggapan. Ada yang menganggap kematian itu
adalah suatu ketentuan biasa sebagai
pendapat golongan athies, dan tidak
kurang pula yang mengaitkan kematian itu
dengan sebab-sebab yang zahir saja. Dia
mengambil logika, bahwa banyak kematian disebabkan oleh suatu tragedi, seperti
diakibatkan oleh peperangan, bencana
alam seperti banjir, tsunami, gempa bumi,
kebakaran dan juga kecelakaan diudara,
laut dan daratan termasuk kemalangan
jalan raya. Selain itu, mereka juga melihat kematian
disebabkan oleh serangan penyakit yang
berbahaya seperti penyakit kanker, sakit
jantung, AIDS, demam berdarah, dan
sebagainya. Disebabkan manusia melihat
kematian hanya dari sudut sebab musabab yang lumrah, maka manusia sering
mengaitkan kematian itu dengan kejadian-
kejadian yang tersebut di atas. Jika berlaku
kematian dikalangan mereka, lantas
mereka bertanya, "sebab apa si fulan itu
mati, sakitkah atau kemalangankah?" Tidak banyak manusia yang mengaitkan
kematian itu dengan kehadiran malaikat
maut yang datang tepat pada saat ajal
seseorang sudah sampai, sedangkan
malaikat maut senantiasa berada
disekeliling manusia, mengenal pasti memerhatikan orang-orang yang hayatnya
sudah tamat. Sesungguhnya malaikat maut menjalankan
perintah ALLAH SWT dengan tepat dan
sempurna, dia tidak diutus hanya untuk
mencabut roh orang sakit saja, ataupun roh
orang yang mendapat kecelakaan dan
malapetaka. Jika ALLAH SWT menetapkan kematian seseorang ketika tertimpa
kemalangan, atau ketika diserang sakit
keras, maka Izrail mencabut roh orang itu
ketika kejadian tersebut. Namun ajal tidak mengenal orang yang
sehat, ataupun orang-orang kaya yang
sedang hidup mewah dibuai kesenangan.
Malaikat maut datang tepat pada waktunya
tanpa mengira orang itu sedang ketawa
riang atau mengerang kesakitan. Bila ajal mereka sudah tiba, maka kematiannya
tidak akan tertangguh walau hanya sesaat. Walau bagaimana pun, ada kalanya
ALLAH SWT jadikan berbagai sebab bagi
satu kematian, yang demikian itu ada
hikmah disebaliknya. Misalnya sakit keras
yang ditanggung berbulan-bulan oleh
seseorang, ia akan menjadi rahmat bagi orang yang beriman dan sabar, karena
ALLAH Ta'ala memberi peluang dan
menyadarkan manusia agar dia mengingati
mati, untuk itu dia akan menggunakan
masa atau usia yang ada untuk berbuat
sesuatu, membetulkan dan bertaubat dari dosa dan kehilapan serta memperbaiki
amalan, serta menambah bekal amalan
untuk akhirat, jangan sampai menjadi orang
merugi di akhirat kelak. Begitu juga orang yang mati mendandak
disebabkan kemalangan, ia akan menjadi
pengajaran dan memberi peringatan
kepada orang-orang yang masih hidup
supaya mereka senantiasa berwaspada
dan tidak lalai dari berusaha memperbaiki diri, menambah amal kebajikan dan
meninggalkan segala kejahatan. Karena
sekiranya ajal datang secara tiba-tiba pasti
akan membawa penyesalan yang tidak
berguna. Di kalangan orang solihin menganggap
bahwa sakit yang ditimpakan kepada
dirinya adalah sebagai tanda bahwa
ALLAH SWT masih menyayanginya.
Karena betapa malangnya bagi
pandangan meraka, jika ALLAH SWT mengambil roh dengan tiba-tiba, tanpa
peringatan terlebih dahulu. Seolah-olah
ALLAH SWT sedang murka terhadap
dirinya, sebab itulah ALLAH SWT memberi
peringatan terlebih dahulu kepadanya. Selain itu, ALLAH Ta'ala menjadikan sebab-
sebab kematian itu bagi memenuhi janji-
NYA kepada malaikat maut, sebagaimana
diriwayatkan oleh Saidina Abbas r.a dalam
sebuah hadis Nabi yang panjang. Antara
lain menjelaskan bahwa Izrail merasa sedih apabila dibebankan dengan tugas
mencabut roh makhluk-makhluk bernyawa
kerana di antara makhluk bernyawa itu
termasuk manusia yang terdiri dari kekasih-
kekasih Allah SWT yaitu para Rasul, nabi-
nabi, wali-wali dan orang-orang solihin. Selain itu juga, malaikat maut mengadu
kepada ALLAH betapa dirinya tidak
disenangi oleh keturunan Adam a.s, dia
mungkin dicemooh kerana dia ditugaskan
mencabut roh manusia, yang
menyebabkan orang akan berdukacita, karena kehilangan sanak-saudara dan
orang-orang yang tersayang di kalangan
mereka. Diriwayatkan bahwa ALLAH SWT berjanji
akan menjadikan berbagai macam sebab
kepada kematian yang akan dilalui oleh
keturunan Adam a.s sehingga keturunan
Adam itu akan memikirkan dan mengaitkan
kematian itu dengan sebab-sebab yang dialami oleh mereka. Apabila terjadinya
kematian, mereka akan berkata bahawa si
fulan itu mati karena mengidap sakit,
ataupun karena mendapat kemalangan,
mereka akan lupa mengaitkan malaikat
maut dengan kematian yang terjadi itu. Ketika itu, Izrail tidak perlu bersedih kerana
manusia tidak mengaitkan kematian
tersebut dengan kehadiran malaikat maut,
yang memang diutus oleh ALLAH SWT
pada saat malapetaka atau sakit keras
seseorang itu bertepatan dengan ajal mereka yang memangnya telah tiba. Namun pada hakikatnya bahwa ajal itu
adalah ketetapan ALLAH, yang telah
termaktub, semuanya telah nyata didalam
takdir ALLAH, bahwa kematian pasti tiba
pada saat yang ditetapkan. Izrail hanyalah
tentara-tentara ALLAH yang menjalankan tugas seperti yang diamanahkan
kepadanya. Walau bagaimana pun adalah menjadi hak
ALLAH Ta'ala untuk menentukan kematian,
sebagai mana yang dinyatakan pada awal
tulisan ini bahwa ada kalanya malaikat maut
hendak mencabut roh seseorang, tetapi
manusia yang dikunjungi malaikat maut sedang dalam keadaan bergelak-tawa,
hingga malaikat maut merasa heran
terhadap manusia itu. Ini membuktikan
bahawa kematian itu tidak pernah
mengenal kondisi seseorang yang sedang
sakit atau pun ketika sehat dan segar- bugar. Firman Allah Taala yang bermaksud : "Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka
apabila telah datang ajalnya mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat
pun dan tidak dapat (pula)
mempercepatnya."(Surah Al-A'raf ayat 34) Marilah tema-temanku, mulai detik ini kita
semua harus ingat dengan apa yang
namanya kematian, supaya kelak kita tidak
akan menyesal.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar